Situ Patengan

Patengan

Strawberry

Marley And Me
Berita Terbaru

Tempat Ngobrol

Pelatihan Internet

Posted by Admin on 25 Oktober 2010 , under | komentar (0)


Kontak

Posted by Admin on 21 Juli 2009 , under |



Silahkan Isi Formulir di Bawah Ini:

Nama Lengkap
Alamat
Email
Subjek
Pesan



Formulir Promosi Produk Usaha Warga

Posted by Admin on , under |



Isi Form Promosi Produk Usaha Warga di Bawah Ini:

Nama Lengkap
Nama Perusahaan
Deskripsi Perusahaan
Alamat
Kota
Kode Pos
Nomor Telp. Rumah/Kantor
Nomor HP/Seluler
Alamat Email
Kartu Identitas
No. Kartu Identitas
Jenis Produk
Satuan
Harga/Satuan (Rp.)
Gambar Produk
Deskripsi Produk



Golok "Bedog" Sunda dari Ciwidey

Posted by Admin on 07 Juli 2009 , under | komentar (1)



Pengertian Golok.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka tahun 2005, golok adalah sejenis parang atau pedang yang berukuran pendek. Sedangkan parang sendiri adalah pisau besar namun lebih pendek dari pedang:

Sedangkan arti golok dalam Kamus Umum Basa Sunda oleh Lembaga Basa & Sastra Sunda (Penerbit Tarate Bandung tahun 2000), golok adalah bedog, perabot atau alat untuk memotong.

Dalam Ensiklopedi Sunda (Pustaka Jaya 2000) diuraikan pengertian bedog yang merupakan nama alat tajam dari besi baja, ada yang berupa pakakas (perkakas) dan ada yang berupa pakarang (senjata). Bedog, baik yang berupa pakakas maupun yang berupa senjata, dalam bahasa Indonesia disebut golok atau parang.

Dari uraian baik dalam kamus maupun ensiklopedi pengertian golok adalah sama dengan bedog. Golok adalah istilah atau nama dalam bahasa Indonesia untuk perkakas atau senjata tajam yang terbuat dari besi baja, yang dalam bahasa Sunda disebut bedog.

Melengkapi pengertian golok dari kamus dan ensiklopedi diatas, secara fisik golok (bedog dalam bahasa sunda, bendo dalam bahasa jawa, parang bahasa melayu) adalah nama alat yang termasuk ke dalam perkakas dan senjata tajam, ukurannya lebih besar dari pisau namun lebih pendek dari pedang, memiliki bilah tebal dan lebar yang terbuat dari logam.

Bentuk Golok Sunda

Anatomi Golok Sunda

Golok atau bedog sunda sangat beragam, karena tiap daerah di Jawa Barat memiliki variasi bentuk tersendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan, fungsi, dan karakteristik masing-masing masyarakat penggunanya. Golok (bedog) sunda umumnya memiliki bilah dengan panjang lebih kurang 30 cm sampai dengan 40 cm, namun ada pula bilah golok yang berukuran pendek atau kurang dari 30 cm. Golok (bedog) sunda yang memiliki panjang bilah lebih dari 40cm disebut kolewang atau gobang.

Bagian utama dari sebuah golok adalah bilah (wilah) dan penamaan golok umumnya berdasarkan pada bentuk bilahnya yang terbuat dari campuran besi dan baja. Bahan baku yang umum digunakan oleh pengrajin golok di Jawa Barat saat ini adalah lempengan per bekas mobil. Bahan ini relatif mudah didapat di tempat penjualan besi bekas. Per mobil bekas digunakan selain karena lebih murah dari bahan baku yang baru, juga karena merupakan campuran besi dan baja yang cocok untuk golok.

Bilah golok dimulai dari buntut atau paksi, yaitu bagian ekor pada pangkal bilah yang dimasukkan pada pegangan golok (perah). Badan bilah terdiri dari perut (beuteung), yaitu bagian sisi yang tajam. Sedangkan bagian yang tumpul dinamakan punggung (tonggong). Ujung bilah golok disebut dengan congo.

Punggung bilah golok sunda ada yang lurus ada pula yang berpunggung melengkung atau dalam istilah sunda bentik.

Golok sunda umumnya memiliki bentuk gagang atau perah yang melengkung dan memiliki ujungnya berbentuk bulat (eluk). Bentuk perah yang agak miring dan melengkung berfungsi agar golok dapat digenggam dengan kuat dan nyaman. Bentuk ujung perah yang bulat berfungsi agar jari kelingking terkait, menahan genggaman tangan agar tidak lepas tergelincir.

Perah kebanyakan dibuat dari bahan kayu dan tanduk kerbau, selain itu juga digunakan tanduk rusa dan tulang hewan sesuai dengan permintaan.

Sarung golok disebut sarangka, fungsi utamanya adalah agar golok dapat mudah dan aman untuk dibawa, diselipkan (disoren) dipinggang. Bentuk sarangka mengikuti bentuk bilah di dalamnya, bila bentuk bilah melengkung maka bentuk perah pun dibentuk melengkung.

Seperti perah, sarangka juga umumnya terbuat dari kayu. Adapula ditemukan sarangka yang terbuat dari kulit hewan, tetapi ini sangat jarang. Sarangka yang dilengkapi dengan asesoris tambahan berupa gelang-gelang pengikat (simpay) yang terbuat dari tanduk kerbau atau lembaran logam yang disebut dengan barlen.


Jenis Golok Sunda
Jenis atau bentuk golok (bedog ) sunda sangat beragam, karena tiap daerah di Tatar Sunda memiliki variasi bentuk tersendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan, fungsi, dan karakteristik masing-masing masyarakat penggunanya.

Di Tatar Sunda ditemukan beberapa bentuk golok dengan nama yang sama namun bentuknya berbeda di daerah lain, serta sebaliknya bentuk golok yang sama tetapi memiliki sebutan nama yang berbeda di lain daerah.Pada tulisan ini nama sebutan dan bentuk golok menggunakan data dari golok sunda yang ada di Ciwidey Kabupaten Bandung Jawa Barat.

Berdasarkan kegunaan golok sunda dapat dibedakan menjadi dua, yaitu golok pakai/bedog gawé /pakakas, selanjutnya disebut dengan bedog gawé, dan golok sorén/golok silat/pakarang, selanjutnya disebut golok pakarang. Golok yang berupa pakarang digunakan untuk beladiri/berkelahi (silat) atau setidaknya sebagai ganggaman (pegangan) yang di-sorén dipinggang oleh para pendekar atau jawara (Banten, Betawi), oleh karena itu selalu memakai sarangka (sarung). Sedangkan bedog yang berupa pakakas ada yang memakai sarangka dan ada pula yang tidak.

Bedog Gawé

Berdasarkan fungsi dan penggunaannya bedog gawé dapat dikelompokkan menjadi :
Bedog Daging / Dapur
Bedog Kalapa
Bedog Pamilikan
Bedog Kebon
Bedog Sadap
Bedog Pamoroan

Golok Pakarang
Tidak ada perbedaan bentuk antara wilah bedog gawe dengan golok pakarang. Namun Golok pakarang selalu dilengkapi sarangka agar golok dapat di-soren. Golok pakarang umumnya dibuat sesuai dengan keinginan pemesannya, dibuat lebih halus, dan dihias (diberi ukiran).

Pakarang adalah senjata-senjata yang dibuat khusus untuk para raja dan petinggi-petinggi di lingkungan kerajaan. Dalam pembuatan pakarang tentu menggunakan bahan terbaik dan teknik khusus. Ciri fisik dari pakarang yang mudah terlihat adalah pamor pada bilah pakarang seperti keris, kujang dan golok. Pamor adalah bentuk logam hasil olahan dari pencampuran sejumlah jenis logam yang berbeda, yang ditempa dan dilipat menjadi satu sehingga menghasilkan tekstur/pola tertentu pada permukaannya. Pakarang yang menggunakan besi pamor akan lebih kuat dan awet karena besi hasil olahan ini telah ’matang’ dibandingkan dengan besi/ logam biasa. Unsur estetika pada golok pakarang lebih diperhatikan dibandingkan dengan bedog gawe yang lebih mengutamakan unsur fungsi. Penekanan pada unsur estetika atau ornamen tentunya sedikit banyak mengurangi fungsionalitas golok sebagai perkakas.

Golok pakarang berpamor tidak dijumpai sebanyak keris dan kujang, kemungkinan bentuknya yang besar dan sederhana kalah artistik dengan kujang dan keris, sehingga tidak banyak dibuat. Namun golok berpamor yang disebut dengan golok sulangkar masih dibuat dan dapat jumpai terutama di Ciomas Banten, walaupun pembuatannya hanya setahun sekali yaitu pada tanggal 14 Maulud penanggalan Islam.

Golok "Singa"
Golok Singa

Bentuk bilah: salam nunggal
Material bilah: besi per
Bentuk perah:hulu singa
Material perah: tanduk kerbau
Material sarangka: kayu rasamala dan kayu loka
Bentuk simeut meuting: eluk paku
dibuat oleh pandai besi dan maranggi di Ciwidey Jawa Barat

Golok "Cepot"
Golok Cepot

Bentuk bilah: gula sabeulah
Material bilah: besi per
Bentuk perah: mantri calik
Material perah: tanduk kerbau
Material sarangka: kayu rasamala dan kayu loka
Bentuk simeut meuting: eluk paku
dibuat oleh pandai besi dan maranggi di Ciwidey Jawa Barat.

Golok "Simeut Pelem"
Golok Simeut Pelem

Bentuk bilah: Simeut Pelem
Material bilah: besi per
Bentuk perah: ekek
Material perah: kayu rasamala
Material sarangka: kayu rasamala dan kayu loka
Bentuk simeut meuting: eluk paku
dibuat oleh pandai besi dan maranggi di Ciwidey Jawa Barat.

Golok "Hambalan"
Golok Hambalan

Bentuk bilah: hambalan
Material bilah: besi per
Bentuk perah: mantri calik
Material perah: kayu rasamala
Material sarangka: kayu rasamala dan kayu loka
Bentuk simeut meuting: eluk paku
dibuat oleh pandai besi dan maranggi di Ciwidey Jawa Barat.

Golok "Paut Nyere"
Golok Paut Nyere

Bentuk bilah: paut nyere
Material bilah: besi per
Bentuk perah: soang ngejat
Material perah: kayu rasamala
Material sarangka: kayu rasamala dan kayu loka
Bentuk simeut meuting: eluk paku
dibuat oleh pandai besi dan maranggi di Ciwidey Jawa Barat.


Golok dalam Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian
Pada lembar ke XVII naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian dinyatakan sebagai berikut:

Sa(r)wa lwir[a] ning teuteupaan ma tĕlu ganggaman palain.

Ganggaman di sang prabu ma: pĕdang, abĕt, pamuk, golok, peso teundeut, kĕris. Raksasa pina[h]ka dewanya, ja paranti maehan sagala.

Ganggaman sang wong tani ma: kujang, baliung, patik, kored, sadap. Dĕtya pina[h]ka dewanya, ja paranti ngala kikicapeun iinumeun.

Ganggaman sang pandita ma: kala katri, peso raut, peso dongdang, pangot, pakisi. Danawa pina[h]ka dewanya, ja itu paranti kumeureut sagala.

Nya mana tĕluna ganggaman palain deui di sang prĕbu, di sang wong tani, di sang pandita. Kitu lamun urang hayang nyaho di sarean(ana), eta ma panday tanya.

Sa(r)wa lwir[a] ning ukir ma: dinanagakeun, dibarongkeun, ditiru paksi, ditiru were, ditiru singha; sing sawatek ukir-ukiran ma, marangguy tanya.[1]

Terjemahan:

Segala macam hasil tempaan, ada tiga macam yang berbeda.

Senjata sang prabu ialah: pedang, abet (pecut), pamuk, golok, peso teundeut, keris. Raksasa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk membunuh.

Senjata orang tani ialah: kujang, baliung, patik, kored, pisau sadap. Detya yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengambil apa yang dapat dikecap dan diminum.

Senjata sang pendeta ialah: kala katri, peso raut, peso dongdang, pangot, pakisi. Danawa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengerat segala sesuatu.

Itulah ketiga jenis senjata yang berbeda pada sang prabu, pada petani, pada pendeta. Demikianlah bila kita ingin tahu semuanya, tanyalah pandai besi.

Segala macam ukiran ialah: naga-nagaan, barong-barongan, ukiran burung, ukiran kera, ukiran singa, segala macam ukiran, tanyalah maranggi.[2]

(Danasasmita, Saleh & dan kawan-kawan, Sanghyang Siksakandang Karesian Transkripsi dan Terjemahan, Dirjen Kebudayaan Depdikbud, Bandung, 1987: halaman 84, 107-108)

Berdasarkan isi naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian didapatkan informasi bahwa setidaknya pada tahun 1518 di Kerajaan Pajajaran, ada sejenis senjata yang khusus dimiliki atau senjata pegangan sang prabu (golongan bangsawan, ksatria, raja) yang disebut dengan golok.
_______________________________________________________________
[1] Saleh Danasasmita, 1987, Halaman 84
[2] Saleh Danasasmita, 1987, Halaman 107-108

Sumber : http://goloksunda.wordpress.com

Forum Usaha Masyarakat Ciwidey

Posted by Admin on 04 Juli 2009 , under | komentar (0)



Lembar ini dikhususkan bagi warga yang ingin memperkenalkan produk usahanya baik itu pertanian, peternakan, perikanan, industri rumah tangga dan lain sebagainya. Warga bebas melakukan Promosi Produk Usahanya. Untuk menjaga ketertiban dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan memudahkan kami untuk memonitor kegiatan ini, kepada warga yang melakukan promosi agar mencantumkan Identitas Lengkap.

Untuk melakukan Promosi yang disertai dengan Foto agar menghubungi Admin Pengelola Blog ini melalui email "ciwideybdg@gmail.com" atau bisa datang langsung ke Kantor Kecamatan Ciwidey.

Semoga dengan adanya Blog ini warga bisa memanfaatkannya untuk Kemajuan kita bersama

Innova Community Touring Ke Ciwidey

Posted by Admin on , under | komentar (0)



Dalam surat undangan yang diterima INILAH.COM Jumat (20/2), disebutkan start FFT IC dimulai pada Sabtu (21/2) di Rest Area KM 11 Tol Cikampek pukul 08.30 wib dan akan kembali ke Jakarta pada hari Minggu (22/2) sore.

Menurut Ketua Panitia FFT 2009 Kicky Nelwan, kegiatan ini akan diikuti oleh lebih dari 35 mobil Kijang Innova, 90 peserta dewasa, dan 45 peserta anak-anak.

IC merupakan wadah bagi para pemilik, pengguna dan pemerhati kendaraan Toyota Innova di Indonesia. IC berdiri pada tahun 2006. IC bersifat terbuka untuk umum dan sukarela.

Saat ini Innova Community sudah memiliki lebih dari dari 400 member, yang diisi dengan kegiatan ngobrol dan diskusi mengenai permasalahan yang berkaitan dengan mobil Innova. Ayo siapa mau ikut! [O1]

Ciwidey

Posted by Admin on , under | komentar (0)



30 Km sebelah selatan Bandung terdapat satu kawasan yang memiliki panorama alam yang sangat menakjubkan. Begitu banyak tempat yang bisa kita kunjungi untuk bisa menikmati indahnya ciptaan yang kuasa. Ciwidey, kawasan inilah yang bisa menjadi salah satu pilihan untuk berakhir pekan dengan menikmati indahnya nuansa alam yang disajikan, segarnya udara yang kita hirup, dan tempat ini juga bisa kita jadikan sebagai tempat untuk melampiaskan hobby bersepeda, hiking ataupun kemping. Ada beberapa tempat yang setiap akhir pekan, hari libur atau bahkan pada hari – hari biasa menjadi kunjungan wisatawan, diantaranya adalah : Kawah Putih, pemandian air panas Ranca Walini, pemandian air panas Cimanggu, Bumi Perkemahan dan Penangkaran Rusa Rancaupas, dan Situ Patengan.

Untuk mencapai kawasan Ciwidey akan lebih menyenangkan bila kita menggunakan kendaraan sendiri, tapi bila kita ingin menggunakan angkutan umum-pun, kita bisa mencapai kawasan wisata yang ada di Ciwidey. Sepanjang perjalanan ke Ciwidey kita bisa menikmati indahnya pemandangan alam yang disajikan, area persawahan yang tersusun rapi, hutan yang menambah kesegaran daerah ini. Selain itu juga kita bisa menikmati perkebunan teh yang membentang hijau setelah kita memasuki area perkebunan Rancabali.

Ada satu hal lagi yang sangat sayang kalau kita lewatkan, sepanjang jalan di kawasan Ciwidey sangat banyak terdapat perkebunan strawberry. Ya, strawberry, kita bisa menjadikan buah ini sebagai oleh – oleh untuk tetangga, rekan kerja, teman ataupun untuk kita nikmati sendiri. Sepanjang jalan akan kita temukan banyak sekali orang yang menawarkan buah strawberry yang menjadi dagangan mereka. Selain bisa membeli buah yang telah dipetik oleh pemilik kebun, kita juga bisa membeli buah strawberry dengan memetik sendiri buah tersebut, dengan begitu kita tidak perlu khawatir tentang kesegaran buah strawberry yang kita makan. |dnr|

Aset Agrowisata Bandung Selatan

Posted by Admin on , under | komentar (3)



Ratusan petani sayuran di Kecamatan Ciwidey dan Rancabali Kabupaten Bandung banyak yang "banting setir" menjadi petani strawberry yang dikemas dalam bentuk wisata agro yang menjanjikan di masa mendatang.

"Kebanyakan kebun sayuran yang disulap jadi tanaman strawberry tersebut yang terletak di pingir jalan atau yang ada akses jalannya, dan hasilnya cukup lumayan bisa memberikan variasi untuk mendukung wisata agro di Ciwidey ini," kata Atang (49) seorang petani strawberry, Jumat yang mengaku sudah setahun ini menekuni tanaman strawberry itu.

Ia menyebutkan, awalnya penanaman strawbeerry tersebut hanya dilakukan oleh beberapa orang petani saja, namun kemudian ada yang memberikan bibit dan cara-cara bertanam strawberry yang ternyata cocok dengan iklim di pegunungan Ciwidey.

Untuk menarik pengunjung, para petani sengaja memberikan pelayanan tersendiri yakni dengan mempersilahkan pengunjung untuk memetik sendiri strawberry yang akan mereka beli. Petani setempat menjual strawberry yang langsung dari pohonnya itu seharga Rp35.000 per kilogram.

Selain itu para petani juga membudidayakan tanaman strawberry tersebut untuk dijual kepada pengunjung yang menginginkan tanaman strawberry di rumah masing-masing baik ditanam di atas pot atau pada karung ukuran kecil.

"Biasanya hari Sabtu dan Minggu banyak pengunjung ke sini untuk sekedar memetik strawbery atau membeli bibit strawberry, lumayan ada peningkatan dan cukup prospektif," kata Atang.

Para petani strawberry tersebut tidak khawatir straberry mereka yang ranum tidak laku. Pasalnya lokasi tersebut tepat berada di pinggir jalan yang mengakses ke kawasan obyek wisata Cimanggu, Ciwalini dan Situ Patenggang di Kecamatan Rancabali.

Selain memasang plang yang bertuliskan `Kebun Strawberry, Pembeli Memetik Sendiri`, para petani juga menjual strawberry dari kebunnya ke kawasan obyek wisata di sana. Namun tidak jarang juga ada yang membeli dari Kota Bandung untuk dijual di toko-toko swalayan atau di obyek wisata yang tersebar di Kota dan Kabupaten Bandung.

"Kami hanya menawarkan kepada wisatawan untuk menikmati suasana alam dan buah yang alami pula, kebetulan strawberry tidak rewel mengurusinya dan mudah sekali memeliharanya. Harganya juga masih `orsinil` dan bersaing," kata Junaidi (40) petani strawberry di Rancabali.

Areal yang dipakai oleh para petani untuk membudidayakan strawberry itu bisa dilakukan di lahan sempit, namun minimal 70 tumbak hingga 150 tumbah. Bahkan beberapa petani ada yang menanam pada lahan lebih dari 250 tumbak.

Pohon strawberry tersebut ditanam pada ratusan karung berukuran kecil dan tersusun rapi. Kebersihan medianya juga sangat terpelihara, dan hampir setiap hari para petani tersebut harus menyiramnya dengan telaten.

"Saat ini belum begitu banyak berbuah, biasanya pada musim penghujan buahnya bagus. Namun sekarangpun cukuplah untuk memenuhi permintaan dari para pengunjung," kata Junaidi.

Mereka optimis, budidaya strawberry bisa memberikan nilai tambah untuk penghasilan mereka. Namun demikian, mereka tidak meninggalkan sama sekali memproduksi sayuran yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga di kawasan dingin di Bandung Selatan itu.

"Menanam sayuran tetap menjadi prioritas utama, sedangkan strawberry mencoba dikembangkan dan selama ini cukup memberikan nilai tambah bagi warga. Harga jualnyapun cukup menggairahkan," tandasnya. [TMA, Ant]